Ilustrasi dari cerita ini : foto dok KNJ

Hari itu saya bersama adik Musa pergi ke Dago untuk serfis hape I Pone miliku, sepulang dari sana kami berdua melintasi di depan gedung Sate dan ternyata disana ada kaka Nato serta adik Pigome dan kaka Bobi.

Mereka duduk  di taman Gasibu, taman Gasibu berseberangan dengan gedung Sate. Aku tidak tau tujuan mereka disini sekedar refresinin atau atau menunggu orang.

 ada seorang bapak yang datang menghampiri kami sambil membawa sekotak, kota itu berisi kopi rokok serta barang lainya, ia membawa teko serta mengendong tas, tidak tau apa yang diisinya.

Bapak itu menawarkan kami membeli kopinya, tapi kami diam tampa suara seakan tidak mendegarnya, kaka Bobi yang Bersama kami, menanyakan kami,”

Bobi                            : Kalian mau minum apa kaaaa,

Karena di tawarkan oleh abang Bobi langsung kami memesan kopi, saya sendiri memesan susu, ketika susu di siapkan bapak itu mengantarkan susu tersebut kepadaku.

Aku beserta abang bercerita di tenga cerita kami, bapak itu datang duduk di depan kami dengan raut waja yang tidak begitu sedap, saya tidaktau apa yang sedang di pikiran, aku coba berbicara kepada bapak itu,

Ditome Opm               : Pak asalnya dari mana iya,,,?

Bapak                          : Saya asli Bandung dari dago,

sambil menatapku dengan raut waja yang sangat berseri, terlintas dalam benakku bapak ini bisa di ajak bicara juga ini.

Saya coba mencari kata-kata untuk menanyakan bapak ini,

Ditome Opm               : Pak tinggal di mana iya,,,,?

Bapak                          : Saya tinggalnya di dago,,,,?

Ditome Opm               : Pulang dari sini biasanya naik apa iya,,,?

Bapak                          : Jalan kaki katanya,,,,?

Ditome Opm               : Berarti rumahnya tidak jauh juga iya dari sini,,,?

Bapak                          : Lumayan jauh juga siiii, tapi karna sudah terbiasa jalan kaki. Kalau saya naik ongkot nanti uang jualan saya otomatis akan berkurang, rugi juga dong,,,,?

Ditome Opm               : Iya juga siiii,,,? Pa uda nika apa belum,,,?

Bapak                          : Udah, anak saya sudah dua tapi masih kecil,

 saya terus menanyakannya,

Ditome Opm               : Pak perna sekolah iya,,,,?

Bapak                          : Perna SD saja, tapi SD juga tidak selesai.

katanya.

Bapak                          : Ketika saya jualan disini saya selalu di kejar-kejar oleh sikuriti yang menjaga taman ini, katika ada orang yang hendak membeli kopi serta rokok yang saya bawa orang tersebut akan di suru oleh sekuriti untuk tidak membeli jualanku.

Kata sikuriti pada bapak yang hendap membeli itu, saya disini hanya menjalankan tugas dari pak walikota, katanya,” saya juga disini hanya mencari naafka untuk menghidupi keluarga kecilku, tapi yang sikuriti balas adalah pergi sana.

Yang saya paling benci itu Sat POL PP, mereka menjalankan rasia, sudah dua kali barang saya di angkat oleh Sat POL PP. Tidak punya rasa kasihan kepada rakyat kecil seperti saya.

bapak itu bercerita dengan raut waja yang sangat menyedikan, sayapun dengan asik mendengarkan cerita bapak itu.

Bapak                          : Saya sebenarnya tidak suka dengan peraturan yang baru dikeluarkan oleh pemerintahan kota Bandung, kanapa saya bilang begitu.

Peraturang ini sangat menyusakan kami, salah satunya seperti saya jualan kopi dan rokok ini, katanya tidak boleh kami akan hanya membuat kotor kota.

Bapak                          : Dalam peraturan yang dimuat di dalam UU tersebut tidak boleh ada jualan-jualan di dekat taman-taman yang ada di kota Bandung.

Bapak itu terus bercerita,

Bapak                          :Saya memilih untuk jualan kaya gini, yang penting makan sehari-hari kami keluarga tercukupi, saya sebagai seorang ayah berjuang demi anak-anak saya yang masih kecil ketika mereka sudah besar dan masuk sekolah dengan hasil kerja kerasku, mereka bisa saya sekolahkan, jadi dari sekarang saya coba untuk tabung uang yang saya dapat dari hasil jualan ini.

Walaupun jualan yang di pandang tidak pantas ini, tapi saya mencari uang dengan cara yang halal, bukan seperti orang yang banyak makan uang haram, walau mendapat pekerjaan yang pantas.

Dulu saya waktu umur 17 tahun perna kerja di barbershop di jakarta, barbershop  itu milik orang Jakarta. Dulu saya masih muda, saya suka terlambat ke tempat kerja, maklum aja karena masih muda

katanya.

Bapak                          : Setelah pulang kerja saya beserta tama-tama putar-putar dulu di kota. Bos di tempat kerja sudah dua kali ia menegurku kerena suka terlambat, satu kali kamu ulagi lagi akan saya pecat kamu dari kerjaan ini.

Karena saya lebih pentingkan teman-teman dari pada pekerjaan.
Pagi itu saya pergi kerja tepat waktu, sesuai jam kerja  yang sudah di tetapkan oleh pemilik barbershop. Ketika sore saya pulang sampai di kosan dimana saya tinggal.

Malamnya teman-temanku mereka datang mengajakku jalan tampa pikir panjang saya langsung ikut dangan mereka. 

Keosokan paginya saya bangun telat, padahal saya sudah tau kensekuensinya, tetapi saya dengan keyakinanku sendir kalau bos hanya menakuti-nakutiku saja.

Ketika sampai di barbershop, bos sudah berdiri di depan pintu, dengan bahasa yang kasar ia langsung berkata kamu saya pecat. Saya hanya terdiam mendengar kata-kata yang keluar dari mulut bos ini, serasa saat itu aku di sambar oleh petir, tampa berkata-kata saya langsung berbalik belakang dari depan barbershop itu, dengan menghela nafas panjang saya coba melangka pulang ke kost dimana saya tinggal.

Ketika sampai di kost pikiranku bercabang-cabang,” saya pulang atau cari kerja lain, tapi di Jakarta ini semua pekerjaan harus mengunakan ijazah, tapi saya ini tidakpunya ijasah. Walaupun saya di terima kerja pastinya saya jadi tukang sapu-sapu, itu yang mucul di pikiranku.

Pagi itu saya memutuskan untuk pulang kekota Bandung. Saya megemas barang-barangku dan berjalan menuju tempat terevel, tempat terevel tidak jauh dari kosanku, tujuan terevel itu menuju dago.

Saya membeli tiket dan menunggu hingga jam 09, kata petuga terevel mini bus yang aku naiki bisa berangkat jam 09 pagi, walaupun aku tak tau hisap rokok, tetapi banya sekali beban pikiran yang menumpuk di benakku, aku coba untuk membeli sebatang rokok dan mengisapnya, kata temanku juga, bisanya ia menghilangkan semua beban pikirannya dengan merokok.

Terlintas dalam benakku,

Ditome Opm               : Ternyata bapak ini membeli rokok untuk  di jadikan tempat pelampaisaan saja.

Bapak                          : Saya mencoba menarik asap rokok dengan tarikan yang sangat dalam hingga menghembuskannya keluar.

Jam menunjukan pukul 09, seorang petuga terevel menyuru kami untuk masuk ke dalam bus mini, karena saya belum tidur semalam, kerena di landa beban pikiran, saya langsung tertidur, saya tidak menyadari kalau sudah sampai di kota Kembang, atau yang biasa di sebut dengan kota Bandung. Saya menaiki angkot dan menuju rumah dimana saya tinggal.

Kedua orang tuaku sudah meninggal sejak aku kecil karena tertabrak oleh terek.

Saya coba membuat tempat jualan dari kayu yang bisa saya gendong, akhirnya dua hari kemudian saya membeli teko dan barang jualan lainya.

Ketika hari ketiganya saya coba menjual tepat di gedung sate dan keliling di sekitar tamannya. Setelah selesai jualan saya pulang jalan kaki hingga sampai di rumah, saya mencoba hitung hasil jualanku ternya lumayan juga harga belanjaku kembali, uang makan juga tercukupi serta ada uang yang bisa saya tabung.

20 pulu tahun sudah aku lewati dengan rasa suka dan duka, ternya aku bertemu dengan seorang cewek, cewek itu ia sangat cantik bilaku melihat indah senyumannya seakan dunia ini milik kita berdua, setiap kali melihatnya ia selalu tersenyum padaku, dengan cara seperti itu ia pastinya menyukaiku, bertanya-tanya dalam lamunanku.

Cewek ini dia kerja disala satu walung makan padang, setiapkali aku merasa lapar pastinya aku makan di warung itu. Makan di walung itu tujuan utamanya  supaya saya dapat melihat paras wajah cewek itu.

Lama kelamaan hubugan kamipun berjalan dengan baik, majikan cewek itu saya langsung memberitahunya kalau saya suka dengan petugas warungnya, majikannya pun mengijinkan kami untuk berpacaran.

Hari itu saya membuka uang tabuganku di celegan ternya sudah 20 juta lebih.
Saya langsung menyiaapkan barang-barang pernikaan kami, setelah menyiapkan semua barang itu, saya langsung datang kecewek itu untuk memberitahunya,” sayang aku sudah menyiapkan barang-barang pernikaan kami, apaka kamu sudah siap jadi istriku,,,,,? Aku sudah siap sayang.

Dua hari kemudian kamipun melangsungkan pernikahan, setelah kami menika dia tidak mengerjakan apa-apa aku yang selalu membwa barang-barang jualanku keliling taman gasibu.

Dua tahun kemudian istriku ternya ia hamil, dan kini ia melahirkan anak perempuan, satu tahun kemudian istriku melahirkan anak kedua, dalam dua tahun ia sudah memberikanku dua anak.

Sore itu saya duduk di depan balkot sambil berpikir,” saya tidak usah tamba anak lagi, dua anak saja sudah cukup, memiliki anak banyak saya bukan pejabat negara yang bisa mencukupi semua kebutuhan anak-anak saya.

Dari cerita bapak ini saya dapat simpukan bahwa kehidupan orang di kota dengan, orang di kampung sangat berbedah, orang di kota ia banyak berfikir bagaimana bisa mendapatkan uang, untuk mencukupu kebutuhan rumah tangganya.

Kehidupan orang di kampung ia tidak banyak berfikir kerena semua sudah ada, ia hanya berfikir bagaimana, menanam ubi jalar dan lain sebaginya.


Oleh : Ditome Opm

Post a Comment